IPDN MANIA…..!!!!!

KENAPA HARUS BERSEKOLAH DI IPDN?
Banyak masyarakat yang mengaku terdidikdari kelas menengah keatas tak habis pikir mengapa potensi unggul bangsa bersekolah di IPDN yang dulu bernama STPDN dan sebelumnya lagi APDN. Menyedihkan sekali, orang terdidik ttidak paham tapi rakyat awam justru sangat mengerti!
Inilah alasannya!
1. Harus kuliah
Di era kemajuan ini orang yang hanya tamat SMA jangan harap bisa dapatkan pekerjaan layak. Orang yang hanya tamat SMA kurang dihargai oleh masyarakat. Maka kami harus kuliah!
2. Yang penting murah, fasilitas berlimpah
Setamat SMA kami butuh perguruan tinggi yang murah supaya orangtua tidak terbebani. Sudah jadi kewajiban nagara untuk membiayai kami, putra putri terbaik bangsa. Kami tidak mampu sekolah ke luar negeri untuk dapatkan pendidikan terbaik.
3. Butuh jaminan pekerjaan
Kami membutuhkan sekolah yang singkat dan ada jaminan setelah lulus dapat pekerjaan untuk mengembangkan diri dan cari nafkah.
4. Jadi pegawai negeri masih relevan
Lowongan yang aman dan nyaman bagi kami adalah pegawai negeri karena lebih terjamin. Tidak ada cerita pegawai negeri kena PHK akibat pemerintah bangkrut. Kami sadar gaji resmi pegawai negeri itu rendah, tapi kami yakin asal tahu caranya maka kami bisa hidup layak bahkan mentereng seperti businessman!
5. Sebetulnya kami ini intelek
Orang-orang sombong yang beruntung kuliah di perguruan tinggi melampiaskan kedengkiannya dengan menganggap kami sebagai calon robot dalam industri besar bermama birokrasi. Tahukah anda semua bahwa kami juga belajar seperti mahasiswa? Hanya saja kami tidak suka berdebat tanpa arah. Kami tidak suka diskusi hanya untuk pamer wawasan dan tunjukkan daftar pustaka di ujung lidah karena bagi kami banyak membaca hanya akan menyiksa dan itu bukan jaminan bagi karir kami di masa depan.
6. Pemerintah adalah pengayom kami
Kami calon abdi negara, kami butuh pekerjaan dari pemerintah pusat maupun daerah. Maka sebuah kebodohan bila kami sok kritis dan sok idealis ingin membangun sebuah pemerintahan yang bersih, efisien dan berwibawa. Itu bukan tugas kami. Itu tugas para pejabat tinggi dan para cerdik cendekia! Kami menghormati dan menjunjung tinggi pemerintah yang menjadi pengayom kami.
7. Kami bukan penganjur korupsi
Secara jujur kami akui bahwa kami paling tidak suka untuk diskusi bagaimana memerangi korupsi karena ternyata batasan korupsi tidak jelas, apa yang secara undang undang dan etika pegawai negeri dilarang ternyata dibiarkan sehingga kami berkesimpulan itu bukan masalah. Kepentingan kami hanya bagaimana hidup sejahtera tanpa harus akhirnya masuk ke penjara, karena bila satu dipenjara maka semua pegawai negeri harus dipenjara juga, apakah tempatnya cukup?
8. Kami orang beretika, bermoral dan religius
Tidak ada atheis di antara kami, masing-masing bebas menjalankan ibadah sesuai agamanya. Maka sebuah kebodohan dan kesewenangan bila kami dianggap tidak beretika, tidak bermoral, dan tidak agamis karena kami punya cara pembinaan mental yang tegas, karena tidak pernah menentang korupsi (lihat alasan nomor 7). Masyarakat membebani kami dengan cita-cita naif tentang birokrasi yang bersih dan efisien, dan enak saja mereka mengutip almarhum Nurcholish Madjid yang mempertanyakan klaim diri tentang religiositas bangsa di tengah tingginya tingkat korupsi, padahal itu bukan urusan kami. Masyarakat memang tidak tahu diri, seolah lupa bahwa fasilitas ibadah berbagai agama itu dibangun/disumbang juga oleh pejabat publik yang sering disindir sebagai koruptor. Bisa pergi berhaji dengan biaya sendiri sebagai pegawai negeri (muslim), dari manapun asal muasal rizki, bagi kami adalah urusan pribadi.

Komentar

Postingan Populer